Thomas Alfa Edison yang Benci Matematika - 3 Kunci Belajar Yang Harus Kamu Tahu

Learning is the act of trying to understand something and stick to the process   ~Mahfuzh tnt  
[tweet this!]
Cara Belajar

Coba berhenti membaca sejenak dan layangkan pandanganmu ke atas. Apakah ada lampu terang di pelapon rumahmu? Ahh.. Tidak ada ya? kalau begitu cukup pandang saja layar handphone dan laptop kalian. Lampu.. Ada hal yang menarik tentang perjalanan hidup Sang penemu lampu, Thomas Alfa Edison. 

Kisah Thomas Alfa Edison

Edison adalah seorang anak yang 'istimewa' sehingga ibunya menghentikan sekolahnya dan mulai mengajarnya sendiri (istilah sekarangnya homeschooling). Ibunya memulai pelajaran dari sastra dan sejarah. Saat itu juga Edison menunjukkan ketertarikan yang luar biasa pada sejarah dan sastra. Ia melahap banyak sekali buku-buku sastra termasyhur saat itu. Saat Edison berusia 12 tahun, ibunya tak lagi mampu memuaskan akan rasa ingin tahunya. Akhirnya Edison diberitahu untuk mengakses buku-buku di Perpustakaan.

Di perpustakaan, Edison melahap banyak sekali buku, hingga akhirnya ketertarikannya jatuh kepada sains. Karena orang tuanya sangat mendukung rasa keingintahuan Edison, maka mereka mengumpulkan uang dan membayar seorang tutor untuk mengajari Edison tentang Fisika dan Sains. Salah satu materi penting yang harus dikuasai untuk fisika ialah matematika. Pada masa itu matematika paling revolusioner ialah buku "Principia Mathematica" karya Sir Isac Newton (berisi dasar-dasar kalkulus).

Edison merasa "Principia Mathematica" menggunakan bahasa klasik yang terlalu bertele-tele dan membingungkan. Hasilnya, Edison tidak lagi tertarik pada matematika tingkat tinggi milik Newton.

Tetapi Edison tetap tertarik pada hukum-hukum fisika Newton. Ketertarikannya pada Fisika terus berkembang, sedangkan minatnya pada Matematika benar-benar berhenti. Ketika Edison berhasil menemukan lampu, ini bukan tanpa Ilmu Matematika, Ia memiliki 6 asisten yang salah satunya merupakan seorang ahli matematika.

Mulailah Dengan yang Menarik Untukmu

Sebagaimana Ibu Edison yang terus membiarkan anaknya belajar dari hal-hal yang menarik minatnya, maka kamu juga harus mengawali pelajaran dengan hal-hal yang menarik. Belajar ialah proses dimana kita memerlukan seluruh kemampuan otak, baik itu memori, berfikir logis, serta berimajinasi. Jangan sampai kamu memaksa otakmu untuk memahami sesuatu saat pertama memulai pelajaran.

Memulai pelajaran pertamamu dengan berbagai perasaan negatif adalah kesalahan besar. Kau harus memulai belajarmu pada hal-hal yang membuatmu bersemangat, membuatmu terhibur dan nyaman. Belajar haruslah menjadi proses yang menyenangkan, yang memaksimalkan potesimu dan ada sensasi tersendiri ketika kamu melakukannya.

Jangan Terlalu Mudah Membatasi Diri

Banyak orang yang terlalu terpaku pada satu hal, tidak mau mempelajari bidang lain, bahkan ada yang suka menghina bidang lain. Ini adalah cara belajar yang salah kaprah.

Terkadang kamu harus memulai dengan Sastra dan Sejarah untuk bisa sampai kepada Fisika, sama halnya seperti Edison. Sedangkan aku sendiri memulai ketertarikanku pada Matematika saat SMP dan saat ini beranjak pada Kimia dan Komputer. Beberapa minggu yang lalu aku bertemu seorang Professor Geologi yang memulai ketertarikannya pada Biokimia dan berakhir pada Ilmu sosial dan Budaya.

Begitulah esensi dari belajar, kamu akan terus menemukan hal-hal yang menarik setelah mempelajari satu hal, kemudian beranjak ke hal berikutnya, berikutnya lagi. 

Kamu Tidak Harus Menabrak Dinding yang Kokoh Dengan Kepalamu

Banyak pelajar yang mencoba menabrak dinding kokoh dengan kepalanya. Maksudnya ialah dia berusaha mempelajari hal yang jelas-jelas sulit dan tidak disukainya. Seseorang yang tidak mahir menghapal mencoba membeli kamus dan menghapalkan kosa kata di dalamnya. Tentu saja yang ia rasakan hanyalah penyiksaan. 

Kalau memang kamu nggak mahir dalam menghapal, kenapa tidak mencoba menonton Youtube berbahasa inggris dengan subtitle-nya? Kamu tetap bisa belajar kok. Tentu saja dengan caramu sendiri. 

Tidak ada yang sempurna, seperti hal-nya Edison, Ia tidak menyukai matematika, maka ia tidak memaksakan otaknya untuk belajar Matematika. Karena Ia membaca banyak sekali karya sastra dan sejarah pemimpin masa lalu, Ia bisa menyelesaikan masalah Matematikanya dengan memanggil asisten. Artinya dengan pemahaman sejarah dan sastranya ia bisa mengatasi masalahnya. 

Pengalamanku  sendiri jujur saja hingga sekarang aku tidak hapal perkalian, karena hal ini aku sudah jadi bahan tertawaan sejak SD, SMP dan SMA. Tetapi aku bisa membuktikan kalau aku bisa mendapat nilai Matematika yang cukup memuaskan. (Tanpa nyontek juga tentunya). Artinya setiap orang punya cara masing-masing dalam membereskan masalahnya, yang perlu dilakukan ialah mulai dari apa yang sudah kamu kuasai dan bertahanlah dalam prosesnya. 

Jadi dalam kehidupan ini cobalah lihat apa sebenarnya hal yang paling menarik minatmu, mulailah mengembangkanya dari titik itu, kemudian teruslah belajar hal-hal baru. Mungkin suatu saat nanti kamu sendiri akan terkejut bahwasannya kemampuan dan minatmu telah berkembang begitu jauh.

Comments

Popular posts from this blog

Hal Sederhana Bisa Menjadi Sangat Luar Biasa - Cerita Dari Aljabar

Orang Berpendidikan Akan selalu Kalah Dalam Berdebat

Melakukan Kesalahan Adalah Kemajuan Penting Dalam Belajar