Bagaimana Memulai Percakapan yang Saling Membangun

Having an intention to learn from everyone is a great blessing~ Mahfuzh tnt [tweet this!]

Beberapa hari ini aku banyak berhubungan dengan orang-orang Jepang secara langsung. Secara langsung dalam artian ialah menggunakan bahasa Jepang. Ini bukan berarti aku sudah bisa berbahasa Jepang dengan baik, tentu saja belum. Sama sekali belum. Tetapi ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak bisa Berbahasa Inggris, maka pilihannya hanyalah membangun percakapan dengan beberapa patah kalimat Bahasa Jepang yang aku tahu. Ini tentu saja akan sangat jauh dari istilah komunikasi yang efektif. Tetapi merujuk kata-kata Nelson Mandela:
If you talk to man in language that he understand, that goes to his head. If you talk to him in his own language, that goes to his heart ~ Nelson Mandela
Jadi dalam konteks itu, aku sedang melakukan percakapan yang membangun keakraban lebih dalam daripada sekedar bertukar informasi.

Orang jepang terkenal punya sikap yang pemalu dan pendiam, kombinasi terburuk untuk mengharapkan terjadinya sebuah percakapan. Tapi bagusnya, mereka sangat ramah, sehingga tidak perlu takut atau ragu untuk memulai percakapan. Jadi sering kali aku yang memulai percakapan.

Aku selalu memulai percakapan dengan beberapa hal yang aku sukai tentang Jepang, terutama anime, manga dan budayannya yang masih terjaga. Ini selalu menjadi topik yang cukup panjang dan menarik.

Ketika percakapan dimulai, aku langsung kebingungan karena nggak semua kosa kata aku ketahui. Pada momen seperti ini, aku cuma tersenyum dan mengangguk, terkadang lawan bicaraku mengerti bahwa aku sedang bingung, dan dia akan berusaha menjelaskannya dengan bahaasa tubuh, tetapi terkadang dia enjoy aja untuk terus menjelaskan, dan aku ikuti iramanya dengan anggukan.

Pada satu titik, aku selalu menemukan pengetahuan baru, hal-hal unik dan mengesankan dari setiap orang yang aku ajak bicara. Tak hanya orang dari jepang, tetapi hampir setiap orang yang kuajak bicara.

Ada banyak esensi percakapan yang aku kira sudah hilang belakangan ini. Percakapan hanya berisikan sampah-sampah dimana tidak ada proses berbicara mendengar berfikir dan menjawab.

Apa yang sering terjadi ialah ketika Si A berbicara Si B sudah sibuk dengan pikirannya mencari balsan yang tepat (Biasanya cerita tentang dirinya atau pengalamannya). Kemudian ketika Si A berbicara pengalamannya, sesaaat setelah itu Si B akan menjawab dengan pengalamannya, yang seringkali tidak berkaitan dengan apa yang diceritakan Si A. Ini bukanlan percakapan, ini adalah dua burung beo yang saling mengucapkan kalimat yang satu sama lainnya tak saling memahami. Tidak ada proses mendengarkan dan berfikir.

Kenapa jenis percakapan seperti ini terjadi? Karena kita tidak suka mendengarkan. Ya.. Hal yang sama sering kali terjadi padaku juga. Lebih suka berbicara daripada mendengarkan, karena ketika berbicara, kita akan menjadi pusat perhatian, dan tak perlu mendengarkan hal-hal yang tidak kita sukai.

Dua Hal Diperlukan untuk Sebuah Percakapan yang Membangun

Mendengarkan

Inilah yang perlu dilatih mulai sekarang, berlatih banyak-banyak mendengarkan. Ini adalah kebutuhan utama, atau mungkin yang terpenting dalam membangun percakapan yang menarik.

Tak perlu menjadi pusat perhatian, jadilah orang yang memperhatikan orang lain, karena itu yang sekarang sulit sekali ditemukan. Orang yang mendengarkan lebih banyak akan dapat belajar lebih banyak.

Bersiaplah untuk Terkesan

Bill Nye, salah satu saintis terbaik di Amerika mengatakan:
Everyone you will ever meet knows something you don't ~ Bill Nye [tweet this!]
Setiap orang memiliki sesuatu yang kamu tidak ketahui. Maka selalu bersiap untuk terkesan pada seseorang yang kamu ajak berbicara. Sekecil apapun itu, pasti ada hal baru yang akan menambah pengetahuanmu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hal Sederhana Bisa Menjadi Sangat Luar Biasa - Cerita Dari Aljabar

Orang Berpendidikan Akan selalu Kalah Dalam Berdebat

Melakukan Kesalahan Adalah Kemajuan Penting Dalam Belajar