Ide Pagi

Hidup yang Tidak Dipertaruhkan Tak Kan Pernah Dimenangkan

Adsense

Pisau yang Paling Berbahaya Ialah Pisau Tumpul

Information and bullet are alike. It's not about how big it is, but how accurate is it? ~Mahfuzh tnt [tweet this!]


Pernah memasak? Yap. Postingan kali ini aku tuliskan terinspirasi dari memasak. Ketika di Indonesia aku sangat jarang memasak, kalaupun memasak paling cuma masak air buat kopi dan masak nasi goreng saja.

Berbeda ketika di Jepang ini, aku harus masak sendiri setiap harinya agar bisa hemat. Nah mengingat aku sama sekali nggak bisa memasak, akhirnya saat awal-awal kedatanganku ke Jepang aku berniat belajar masak. Masakan pertama ialah, Salad! Hahaha.. Sama aja nggak masak sih.

Tapi beneran, awalnya aku belajar bikin salad, alias belajar motong-motong sayuran. Karena sok keren aku belajar motong sayuran dari chef di Youtube. Dan pelajaran yang pertama yang harus diingat adalah
Jangan pernah menggunakan pisau tumpul untuk memotong sayuran

Pisau Tumpul

Luar biasa bukan? Selama ini mungkin kita mengira kalau pisau tumpul jauh lebih aman daripada pisau yang terlalu tajam. Dari kecil juga aku di-didik bahwa pisau tajam itu sangat berbahaya. Tapi sekarang untuk memasak, pisau tumpul yang justeru lebih berbahaya.

Pisau tumpul sangat sulit dikendalikan, seringkali kita berusaha memotong-motong wortel yang teksturnya agak keras, justeru mengiris tangan sendiri. Perlu tenaga ekstra untuk mengiris-iris sayuran sementara keseimbangan semakin sulit dikontrol.

Era Informasi

Menurutku perkara pisau ini sangat mirip dengan informasi. Kita hidup di era informasi yang luar biasa. Hampir setiap harinya kita menerima informasi, baik itu dari media online, sosial media maupun dari aplikasi messenger di smartphone.

Era informasi ini merupakan pencapaian yang luar biasa bagi ummat manusia. Ini telah merubah pola pikir kita secara mendasar. Mengubah anak-anak era 90-an sepertiku yang dulunya tidak suka membaca menjadi pembaca yang luar biasa setiap harinya.

Yang dulunya jika disuruh menyelesaikan novel dari guru Bahasa Indonesia saja malasnya minta ampun, sekarang dengan suka rela membaca pengalaman orang yang tidak dikenal dan tidak terkenal di blog. Dulu jika diminta membaca dua halaman artikel saja mencari-cari yang lebih singkat dari setengah halaman, sementara sekarang membaca catatan Facebook orang lain hingga beberapa kali skroll masih tahan bahkan dengan rasa penasaran yang lebih tinggi.

Internet secara langsung telah merevolusi cara kita mendapatkan informasi dan meresponnya. Sisi positifnya adalah kita bisa mendapatkan banyak informasi sedangkan sisi negatifnya ialah kita menjadi terlalu mudah dalam menerima informasi baru.

Informasi Seperti Pisau

Informasi ibarat pisau, jika tidak cukup tajam justeru berbahaya buat kita. Informasi yang tumpul itu tidak hanya yang abal-abal atau tidak akurat tetapi juga informasi yang tidak lengkap.

Seorang anak berusia 14 tahun, Nathan Zohner pada 1997 berhasil mengajak 86% temannya untuk memboikot penggunaan air yang saat itu ia sebut Dihidrogen Monoksida (H2O). Informasi dan data yang digunakan benar seluruhnya, valid dan logis, namun tidak lengkap. Ia menyembunyikan istilah yang lebih umum yaitu "air" dalam propagandanya dan lebih mempopulerkan penggunaan istilah DHMO (Dihidrogen Monoksida).

Hal ini menunjukkan betapa mudahnya pikiran manusia untuk dikendalikan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan informasi yang hanya sepotong-sepotong. Ini sama sekali tidak mengesankan bahwasannya 86% anak yang terpengaruh itu bodoh, hanya saja dalam mencerna informasi mereka hanya menerimanya tanpa ada rasa penasaran menggali lebih dalam dan tanpa adanya dasar pengetahuan sains yang cukup.

Hal tersebut merupakn sebuah contoh saja untuk kasus yang berhubungan dengan sains. Sekarang pertanyaannya adalah, apa pembelokan informasi yang tumpul ini hanya terjadi dalam bidang sains? Tentu tidak. Pasti ini juga terjadi dalam bidang politik, ekonomi dan hukum.

Oleh karena itu mulailah memilah-milah informasi yang akan kalian terima. Jika kalian tidak benar-benar tertarik pada permasalahan hukum dan politik, maka tidak perlu membaca berita-berita politik dan hukum apalagi berpendapat tentang itu. Karena sejatinya membaca tanpa mengetahui pokok dasar permasalahannya hanyalah sebuah pisau tumpul.

Mulailah lebih fokus pada informasi-informasi yang relevan dengan apa yang sedikit banyak telah kita pahami. Sehingga setiap kali membaca informasi baru, itu seperti menempatkan sebuah kepingan puzzle pada titik yang tepat. Begitu pas, dan mampu menyempurnakan konsep pengetahuan yang telah kita bangun.

Memahami sebuah informasi yang benar dan terstruktur akan jauh lebih baik dibandingkan mengetahui banyak informasi yang random dan tidak terarahkan. Buanglah informasi abal-abal yang hanya membebani pikiran, membuat daya nalar menjadi tumpul dan mudah sekali menghakimi sesuatu tanpa tahu kebenarannya. Cek ulang setiap informasi yang akan masuk, tanyakan sekali lagi apakah ini relevan dengan pengetahuanmu? Atau jika memang tertarik pada bidang tersebut, mulailah dari dasar, galilah lebih dalam, dan belajarlah dari ahlinya.

Simak Tulisan sebelumnya: Orang Berpendidikan Akan Kalah Dalam Berdebat