Ide Pagi

Hidup yang Tidak Dipertaruhkan Tak Kan Pernah Dimenangkan

Adsense

Berapa Koleksi Gagalmu?

Angka kegagalan itu nggak ada artinya, bahkan mungkin menjadi kebanggaan ketika kita telah berhasil ~Mahfuzh tnt [tweet this!]

Beberapa waktu lalu seorang teman curhat ke aku, pasalnya lagi-lagi dia mendapat balasan email bahwa aplikasi kerjanya ditolak oleh perusahaan tujuan. Lebih menyakitkan lagi, ini adalah penolakan yang ke-7.

Menanggapi hal ini, aku dengan santai menjawab “Nggak papa, lanjut lagi aja”.  Jawabanku kacau banget kan ya? Nggak peka banget! Tapi kalau dipikir ulang, memang harus lanjut lagi, sudah ditolak 7 kali, mau di apa?

Kejadian gagal berkali-kali semacam ini sudah lumrah kalau dalam kehidupan. Terutama kehidupan mahasiswa kasta sudra macam aku.

Dimaki, Ditolak Terus Mau Gimana?

Pengalaman saat akhir perkuliahan dulu, aku harus menyelesaikan salah satu laporan pertanggung jawaban Praktek Kerja Nyata, PKN (bukan nama sebenarnya). Laporan sudah aku jilid dengan rapi, dan ketika aku berikan kepada dosen yang bertanggung jawab, aku dimaki, pasalnya nggak janjian dulu. Setelah dimaki, proposalku ditolak mentah-mentah.

Menyerah?

Belajar dari pengalaman, aku memutuskan untuk menghubungi terlebih dahulu dosen yang bersangkutan. Saat aku telepon, telepon di angkat dan setelah tahu bahwa yang berbicara ialah mahasiswa, aku langsung kena maki lagi “Mahasiswa itu SMS, sejak jaman dulu gitu! Kok sok kaya, mahasiswa nelpon!”

Maka dari itu setelah kena maki aku SMS.  Tidak dibalas.

Menyerah?

Berikutnya Aku SMS lagi (setelah yang kemarin tidak dibalas). Akhirnya dibalas dan diberikan waktu janjian. Datang ke lokasi lebih awal agar tidak terlambat, kemudian ketika bertemu aku kena maki lagi (di depan umum), katanya datang terlalu cepat jadi dia nggak bisa istirahat (padahal ketemunya tepat waktu). Tapi ya sudah lah.. apalah cuma mahasiswa kasta sudra. Laporanku akhirnya dibaca(sangat sedikit) dan habis dicoret2.

Menyerah?

Aku datang lagi dengan laporan yang sudah aku edit lengkap. Semua yang dicoret-coret aku edit dan bagaimanapun menjadi paragraf yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian janjian lagi (tentu saja campur makian). Setelah ketemu aku sodorkan kedua laporan yang dicoret-coret dan yang baru. Yap akhirnya laporan yang baru diedit lagi dengan editan yang nggak signifikan.

Menyerah?

Proses editing ini kalau nggak salah lebih dari 8kali hingga akhirnya ditandatanganin.
Baca Juga: Menang dari Keadaan Terburuk

Dicuekin, No Respon

Setelah lulus kuliah, nggak kalah seru pengalamanku. Emang seperti yang aku bilang, mahasiswa kasta sudra harus tahan banting. Saat itu aku emang terobsesi untuk kuliah di Luar Negeri, karena yang paling dekat ialah beasiswa AAS, Australia Awards Scholarship, maka aku berencana mendaftar beasiswa tersebut.

Sebelum mengirimkan seluruh berkasnya, aku berencana untuk mendapatkan Professor di Australia yang bersedia (setidaknya) memberi harapan agar aku bisa masuk ke laboraturiumnya. Demi mendapatkan professor ini, aku mengirimkan beberapa email. Setidaknya ada lebih dari 50 email yang aku kirimkan. Dan setiap email berbeda satu sama lainnya. Untuk menuliskan email ini setidaknya aku harus mencari profile professor tersebut, membaca satu jurnalnya dan mencoba membangun komunikasi.

Hingga akhir nyaris deadline pengumpulan berkas AAS, aku tidak dapat balasan dari email-emailku. Tetapi akhirnya aku bisa juga ke Luar Negeri tanpa balasan email-email Professor Tersebut.
Baca Juga: Melakukan Kesalahan Adalah Kemajuan Penting Dalam Belajar

Angka Kegagalan itu Nggak Ada Artinya

Pada cerita pertama, setelah aku mendapatkan tanda tangan persetujuan, semua jumlah editing dan makian yang banyak itu nggak ada artinya. Semuanya sirna, berakhir dengan fakta bahwa seorang Mahfuzh sukses mendapatkan tanda tangan persetujuan LPJ-nya.

Pada cerita yang kedua, akhirnya aku nggak dapat balasan dari  50 email yang aku kirimkan, pun nggak diterima beasiswa AAS. Tetapi di kemudian hari, pembimbingku memberikan kontak ke Professornya di Jepang, kebetulan ada anggaran untuk membiayai orang asing di laboraturiumnya. Aku mendapatkan rekomendasi dan berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studiku.


Jadi kisah 50 email itu sudah terasa nikmat berkat keberhasilan yang tidak disangka-sangka. Tapi intinya, 999 kegagalan sekalipun tidak akan ada artinya ketika kita mampu berhasil satu kali saja!

Kesimpulannya ialah berapapun koleksi gagalmu, tetap fokus pada tujuanmu dan teruslah berusaha mewujudkan impian. Tidak ada harapan ketika kamu menyerah, karena itu coba lagi, mantapkan tujuan dan perbaiki usaha!